Quotes Corner

“Menang atau kalah itu hanyalah topik yang membosankan buatku, bagiku yang terpenting adalah melakukan yang terbaik” – No name

Advertisements

New Haircut

Senin, 05/06/2017

Indonesia: Hari ini capek banget, bolak balik padang bai sekitar 120km! karena harus anterin temen. Pulangnya lanjut nemenin temen yang lain ke kampus, dan pulangnya langsung potong rambut. btw cocok gak ya potongannya hehehe…

English: I was so tired today, i should going to padang bai and back to denpasar that approximately 120km! because i should take my friend to harbour. And after that i should take another friend to campus, and i going to barbershop after that. btw is it match for me? 

Tugas Trimatra

Halo guys, pengen cerita dikit nih hari ini hehehe…

Akhir akhir ini aku sibuk banget sama urusan kampus, urus tugas ini lah, urus tugas itu lah, koordinir ini lah, beli ini lah, dll. Pusing banget, gak nyangka bakal bisa se sibuk ini ehehe…

Dan salah satu tugas yang paling ngeselin ya ini wkwkwk, tugas Pengantar Teknologi Informasi yaitu membuat trimatra. Mungkin buat anak seni sih ini bukan tugas yang berat yah, tapi buat orang yang gak punya kesabaran dan ketelatenan tugas kek gini bener bener menyiksa wkwkwk.

Oh iya, buat kalian yang gak tahu apa itu Trimatra, jadi trimata adalah salah satu, bisa dibilang apa ya, cabang seni lukis mungkin ya [tolong dikoreksi bila salah]. Seni ini juga merupakan bagian dari seni nirmana. Seni trimatra itu adalah seni yang menghasilkan karya 3 dimensi ya.

Kesulitan selama bikin ini sih, pertama, Aku harus potong banyak banget karton yang lumayan tebel. Kedua, memilih warna gradasi karena aku gak biasa main di warna sih dari dulu, jadi agak bingung. Ditambah aku kekurangan bahan.

Jadi segitu aja dulu yang bisa aku share hihihi, mau lanjutin lagi nih bikn tugasnya, gak yakin deh hari ini bisa kelar, padahal besok harus udah dikumpulin wkwkwk.

Sampai jumpa teman teman, terima kasih sudah mengunjungi blog ini.

Chapter 2: Persahabatan!

“Selamat pagi Kuro!” sebuah tangan besar menepuk punggungku.

“Sudah berapa kali aku katakan padamu untuk tidak melakukan hal seperti itu” aku menjawab laki – laki berbadan tegap itu dengan nada datar.

“Hei hei, ayolah, apakah kau tidak bisa santai sedikit? Maksudku, kupikir kehidupanmu memang sedikit terlalu santai. Tapi tidak bisakah kau bersikap seperti bahwa kita ini adalah teman?” laki – laki itu terus berbicara sambil menepuk – nepuk pundakku.

“Lakukan saja apa yang kau inginkan, tetapi sejak lahir aku memang sudah seperti ini. Leo, aku berbicara padamu bukan karena aku ingin menjadi temanmu, hanya saja aku tidak bisa melupakan hari itu.” aku mengungkapkan kata – kata ini sambil mengeluarkan buku dari tasku.

“Sudahlah, apa yang telah berlalu biarkan saja menjadi masa lalu”.

 

—***—

“Awas!”

*Brakkkkkk!*

Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, aku hanya tahu, bahwa aku telah terjatuh ke tanah setelah seseorang mendorongku.

“Cepat panggil ambulans! Cepat! Cepat!” orang – orang berlarian menuju tempat yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat aku terbaring.

“Apakah kau tidak apa – apa anak muda?” seorang pria yang memakai jas dan tampak seperti orang yang baru pulang dari kantor datang menghampiriku dan membantuku untuk duduk.

“Mmm, ya, aku tidak apa – apa. Tapi apa yang telah terjadi disini?” aku duduk sambil sedikit menenangkan diriku yang masih tidak tahu akan apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Sebuah mobil kehilangan kendali beberapa saat yang lalu, dan mobil itu hampir saja menabrakmu. Tapi tiba – tiba seorang anak laki – laki lain yang sepertinya memakai seragam sekolah sepertimu melompat untuk menyelamatkanmu” pria itu bercerita sambil mencoba membantu menenangkanku.

“Tapi tenang saja, aku yakin dia adalah anak yang kuat dan aku yakin dia pasti tidak apa apa” pria tersebut segera bangun, menepuk pundakku dan pergi berjalan kembali.

“Si! Siapa yang mau melakukan hal bodoh seperti itu!” aku segera bangkit dan berjalan menuju tempat yang penuh dengan orang itu, sambil melihat ambulans yang telah datang untuk menolong anak itu

“Benar! Dia mengenakan seragam sekolah yang sama sepertiku! Si- siapa dia!” aku terus menatap wajahnya yang terlihat tenang karena sepertinya dia pingsan.

Ambulans pun segera membawa anak itu pergi.

—***—

 

*Jam tanda istirahat makan siang pun berbunyi*

“Hei Kuro, apa kau akan membuang waktu makan siang yang berharga seperti ini dengan hanya diam di kelas lagi hari ini?” Leo menghampiriku dengan membawa sebuah kotak makanan.

“Memangnya apa lagi yang harus kulakukan?” aku melipat tanganku diatas meja dan memasukkan wajahku kedalam.

“Ada satu hal yang bisa kau lakukan” Leo menjawabku, dan lagi – lagi. Dia memasang ekspresi itu.

“Jangan bilang kau akan menyeretku untuk makan denganmu di rooftop” aku membalasnya sambil mengangkat wajahku.

“Aku tidak harus menyeretmu, aku bisa menggendongmu jika kau mau” Leo tertawa terbahak – bahak.

“Hentikan jawabanmu yang menjijikkan itu, aku tidak akan bergerak sedikitpun dari tempat ini” aku kembali memasukkan wajahku.

“Hei, Kuro. Aku dengar kau suka bermain game ya. Aku mendengar bahwa ada sebuah game yang seru. Kalau tidak salah, nama game itu- Brave apalah itu. Dan aku baru saja memainkannya kemarin, game itu benar – benar gila!”

“Brave Road!” pikirku.

“Apakah kau benar – benar memainkannya?!” aku menjawabnya dengan sedikit kaget dan mungkin Leo akan salah mengartikan jawabanku.

“Hahaha! Sudah ku duga kau adalah seorang maniak game” Leo meledekku sambil berjalan pergi.

“Ikutlah denganku dan mari kita bicarakan topik yang sangat kau suka ini”

“Aku tidak pernah menyangka bahwa ada murid di sekolah ini selain aku, yang memainkan Brave Road. Apa itu karena aku tidak pernah bergaul dengan orang lain ya? Tapi siapa peduli dengan semua itu” aku pun berakhir dengan mengikuti Leo dan makan bersamanya.

Begitulah aku kembali jatuh pada kata – kata Leo.

 

*Lonceng sekolah tanda kegiatan sekolah telah berakhir pun terdengar*

“Baiklah aku akan menemuimu disana” Leo melambaikan tangannya sambil melangkah pergi.

Aku tidak menyangka aku akan memiliki teman, sejak dulu, aku selalu saja sendirian. Tidak ada orang yang mau berbicara berbicara padaku atau bahkan mendekatiku. Aku seperti tidak hidup di dunia ini saja. Aku melanjutkan perjalananku pulang.

 

“Aku pulang”

“Ah, Kuro. Selamat datang. Cepatlah mandi dan bantu ibu untuk memasang ini disana”

“Baiklah” aku naik menuju kamarku.

Aku merebahkan diriku diatas tempat tidurku. Aku merasa bebanku sedikit terangkat.

 

“Dive!”

Aku membuka mataku, dan begitulah aku kembali ke dunia ini.

“Disana ya” aku menutup map dan segera menuju hutan timur.

 

“Kuro! Kemari” aku mendengar suara seorang laki – laki memanggilku dan aku pun segera menuju suara itu.

“Jadi begini ya penampilanmu saat sedang di dalam dunia lain ini” seorang pria dengan armor yang terlihat berat sambil membawa perisai menyapaku.

“Aku sendiri sudah meyangka kau akan memilih Swordsman”

“Hei hei, setidaknya pujilah characterku yang ku buat dengan susah payah agar terlihat keren ini” seperti biasa, Leo selalu bertingkah kekanak – kanakan.

“Jadi apa yang mau kau bicarakan?”

“Apa? Bukankah hal itu sudah jelas? Ajari aku cara bermain game ini” ujar Leo sambil merengek.

“Hemmmm, aku tidak mengerti kenapa kau bermain game yang tidak kau ketahui cara mainnya, atau setidaknya bukankah kau sudah melewati tahap tutorial”

“Emmm~ sebenarnya, ketika aku pertama kali bermain game ini, aku tidak terlalu memperhatikan. Dan ketika NPC yang aku lupakan namanya itu, bertanya, apakah kau mau melihat tutorial? Secara tidak sengaja, aku menjawab tidak”

“Bukankah itu akibat dari sifatmu yang selalu mengedepankan ototmu tanpa menggunakan otakmu?”

“Hei hei, itu kasar sekali teman” Leo menjawabku sambil sedikit menyenggolku hingga aku hampir saja jatuh, setidaknya dia harus menyadari perbedaan job kita.

“Baiklah, aku akan menjelaskan secara singkat. Pertama – tama kau harus mengali jobmu sendiri, kau adalah pemain dengan job Swordsman yang artinya, itu cocok dengan kepribadianmu yang selalu mengedepankan otot dari pada otak”

“Hei hei, ini yang kedua kalinya” Leo memotong kata – kataku sambil sedikit tersenyum.

“Kedua, sebelum kau melakukan log out, pastikan karaktermu ada di tempat aman, atau aku sarankan kau melakukan log out saat sedang di penginapan. Mengingat kau adalah pemain baru. Ketiga, pastikan kau makan dengan benar atau status mu akan berkurang dan kemampuan karaktermu akan terganggu. Dan yang terakhir, jangan membawa barang melebihi kapasitas backpackmu, itu akan mengurangi speedmu saat sedang berjalan. Dan satu lagi, hindari monster dengan level yang berbeda terlalu jauh denganmu, bagaimanapun kelihatannya.” Aku mengakhiri penjelasanku dan menarik nafas.

“Apa kau mengerti?”

“Tentu saja! Meskipun aku jarang menggunakan otakku, namun otakku ini sebenarnya dapat mengerti sesuatu dengan sangat cepat” Leo menyombongkan dirinya sambil menepuk – nepuk dadanya.

“Kalau begitu agar aman, aku akan menambahkanmu ke dalam daftar teman milikku” aku menambahkan Leo ke daftar teman.

“Wah! Itu ide yang bagus”

“Sekarang aku akan menambahkanmu ke dalam party milikku”

“Wah! Ini keren sekali” Leo menerima undangan partyku.

“Inilah awal dari petualangan kita!” Leo bersorak dan terlihat sangat bersemangat.

“Lakukanlah sesukamu asal jangan menjadi beban bagiku. Sepertinya aku harus pergi karena sekarang jam makan malam. Besok sore, sepulang sekolah aku akan membantumu untuk menaikkan level, Karena kau baru mulai, naik level tidak akan menjadi hal yang besar. Sampai jumpa”

“Terima kasih banyak Kuro!” Leo mengacungkan jempol padaku, dan begitulah kami mengakhiri pertemuan kami di dunia baru kami. Dan mungkin apa yang Leo katakana benar, ini akan menjadi awal petulangan kami. Karena sebenarnya selama ini aku hanya melakukan quest dan hanya berfokus untuk menaikkan levelku, aku rasa banyak hal yang masih tersimpan di dunia ini, dan mungkin. Mungkin, kedatangan Leo ke dunia ini akan membawa sesuatu yang baru bagi perjalananku.

Chapter 1: Wizard Terkuat?!

*Burung – burung telah mulai berkicau, menandakan pagi yang baru telah tiba*

Seperti hari – hari biasanya, tidak ada sesuatu pun yang menarik perhatianku hari ini. Aku sudah terbiasa duduk diam dan hanya melihat keluar jendela, tanpa memikirkan sesuatu. “Andai saja rasa bosan bisa dijual, mungkin sekarang aku sudah kaya raya” atau setidaknya hanya kata – kata inilah yang sering masuk kedalam kepalaku yang mungkin masih memiliki banyak ruang kosong.

Sebagai seorang pelajar SMA, kehidupanku tergolong biasa – biasa saja, atau bahkan jauh dari “biasa – biasa saja”. Ketika sebagian besar siswa SMA menghabiskan waktunya dalam kegiatan klub ataupun belajar, aku tidak terlalu tertarik dengan semua itu. Ketika sebagian besar dari mereka pergi bersama untuk mengerjakan tugas kelompok, atau hanya sekedar berjalan – jalan bersama. Aku selalu mengurung diriku dikamar, setidaknya untuk. . . . . . .

*Aku tidak pernah merasa iri pada kehidupan orang lain di dunia itu. . . .*

“Shadow step!”

“Thousand Knife! Ini sudah yang ke-sepuluh”

“Monster di daerah ini benar – benar lemah, mungkin aku harus berjalan lebih jauh untuk mencari monster dengan level yang lebih tinggi, akan membutuhkan waktu yang panjang untuk dapat naik level hanya dengan monster seperti ini.”

“GAAAOOOOOOOOOOOOO!!!!”

“Gawat!” aku berusaha menghindari serangan musuh yang muncul secara tiba – tiba dari dalam tanah.

“Phoenix Flame!”

*Duarrrrrrr!*

“Kau membuat kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan, sekali lagi kau melakukannya dan kau akan kembali ke Hall” ucap seorang gadis dengan pakaian khas seorang wizard, sembari berjalan menjauh.

“Tunggu!” aku mencoba berbicara dengannya namun dia tidak menghiraukanku.

“Sialan, aku lupa melihat namanya. Sombong sekali dia, apakah dia menganggap dirinya lebih kuat daripada aku!” aku menggerutu sambil melanjutkan perjalananku, dan kali ini aku lebih waspada dengan kondisi sekitar.

*Selamat datang di kota Avalon*

“Selamat datang di guild inn, apakah ada yang bisa kami bantu?”

“Tidak, aku pesan minum saja.”

“Baiklah, mohon menunggu”

“Huh, aku benar – benar lelah karena perjalanan ini. Sepertinya aku harus mencari tempat bermalam” sambil membuka inventory ku untuk mengecek berapa banyak uang yang ku punya.

“silahkan” pelayan datang dan menaruh minuman di mejaku.

“Sialan, aku hanya punya 50 gold tersisa, biaya penginapan mungkin butuh sekitar 5 gold. Sebenarnya akan lebih mudah jika aku memiliki lebih banyak uang untuk membeli rumah. Tapi aku butuh sekita 1000 gold untuk membeli sebuah rumah. Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu!” aku menggerutu sambil meminum minuman yang ku pesan.

“Mungkin aku akan memikirkannya lagi nanti” aku menghabiskan minumanku dan bergegas pergi untuk mencari tempat penginapan.

Di dunia ini, meskipun kami tidak terjebak, ataupun hidup selama 24 jam dalam dunia ini. Tetapi kami tetap harus memastikan bahwa character yang telah kami buat berada pada tempat yang aman sebelum kami log out. Hal ini kami lakukan agar kami tidak mati karena terbunuh oleh monster ataupun Player Killer. Karena itulah menyewa penginapan adalah hal yang sangat penting bagi kami. Biaya penginapan biasanya mengambil 5 gold dari kami untuk tinggal selama 24 jam. Selain itu juga, game ini memiliki sistem yang benar – benar meniru apa yang ada di dunia nyata, contohnya. Kita harus makan setiap hari atau point kita akan berkurang, dan itu menyebabkan menurunnya stamina ataupun serangan kita. Karena itulah, kami harus mewaspadai banyak hal dalam game ini.

Aku membuka mataku dan melepaskan B-Gear. Dan aku menyalakan lampu di kamarku.

“Kuro cepat turun! Makan malam sudah siap, apakah kamu mau agar ibu memanggil ayahmu untuk menghabiskannya?”

“Aku akan segera turun” Aku berjalan keluar kamarku dan menuju ruang makan.

“Kei cepat kemari, atau kakakmu dan ayahmu akan menghabiskan semua makanan yang ada”

“Aku sudah pasti akan menghabiskan semuanya, entah mereka akan datang atau tidak” ayah berkata sambil sedikit tertawa.

“Ayah harus inget bahwa tidak hanya ayah saja yang memiliki perut yang harus di isi di rumah ini” Kei membalas ucapan ayah, sedangkan ayah hanya tertawa.

“Sudah ayo cepat dihabiskan, jangan bicara saja” ibu mengambil nasi untuk kami semua.

“Ah iya Kuro, bagaimana sekolahmu, apakah kau sudah terbiasa bersekolah disana?” ayah bertanya padaku sambil mengambil lauk pauk.

“Ya, begitulah, sama saja seperti di sekolahku yang dulu”

“Maafkan ayah karena, ayah harus mengajak kalian semua pindah secara tiba – tiba”

“Sudahlah, ini bukan salah ayah, lagipula Kuro dan Kei tidak merasa keberatan pindah kesini, benar kan?”

Kami berdua pun hanya mengangguk.

“Aku sudah selesai, aku akan kembali ke kamarku untuk beristirahat.” Aku pun kembali menuju kamarku.

Saat ini jam masih menunjukkan pukul 9 malam.

“Sepertinya aku masih memiliki waktu untuk menaikkan levelku”

Aku mulai memasang B-Gear ku dan melakukan log in.

“Dive!”

*Beeeepppp!*

“Baiklah, game ini sangat menguntungkan karena memiliki waktu yang sama dengan dunia nyata, meskipun untuk menghabiskan satu hari disini agak sedikit lebih lama daripada kebanyakan game lainnya”

“Sekarang aku akan mulai mencari monster di hutan timur” aku bergegas keluar kota dan menuju hutan timur.

Namun ketika aku hendak keluar dari gerbang kota. . . . .

“Hei hei, apakah kau sudah mendengar kabar yang tersebar?”

“Jangan – jangan kabar mengenai Wizard terkuat yang datang ke kota ini ya?”

“Benar sekali. Jadi apakah kau pernah melihatnya?”

“Tidak, tidak, player seperti dia itu bukanlah player yang mudah untuk kita temui”

“Aku berharap aku dapat bertemu dengan mereka”

Aku secara tidak sengaja, mendengar pembicaraan 2 orang tadi dan aku mulai berfikir “Siapakah Wizard terkuat itu? benarkah dia datang kemari? Saat ini mungkin aku bisa dikatakan sudah kuat karena aku sudah masuk level 50, namun aku belum pernah melihat player yang lebih kuat dari aku di daerah ini. Tapi apakah mungkin para player kuat itu mau jauh – jauh datang ke tempat seperti ini?” Aku merenung sambil melanjutkan perjalananku.

“Shadow Step!”

“Fury Blade!” aku terus menghabisi monster yang ada.

“Flame Phoenix!” aku mendengar seseorang memakai skill.

“Suara ini! Skill ini! Jangan – jangan!” aku segera berlari mencari pengguna skill ini.

*Character level UP! Congratulation!*

“Di- Dia mengalahkan boss area hanya dengan satu skill?! Siapa sebenarnya orang ini!”

Wizard berjubah ini pun segera pergi, namun kali ini aku berhasil mengejarnya.

“Tunggu sebentar!” aku menyentuh wizard berjubah itu.

“Fire vortex”

“Skill ini!” aku segera melompat mundur untuk menghindari skill yang ia gunakan, skill itu adalah skill yang bisa membuat putaran api disekitar penggunanya dan memiliki damage yang besar.

Wizard berjubah itu pun melangkah pergi namun aku melihat sesuatu yang mengingatkanku pada sesuatu ketika melihat wizard itu melangkah pergi. Apakah yang sebenarnya terpikir olehku ketika melihatnya? Siapakah dia?

“Suatu saat nanti, aku pasti akan menemukannya dan berbicara dengannya”.